KISAH ULAMA’ SHOLEH
Berguru Dalam Mimpi
Pada waktu Syeikh Kholil masih muda, ada seorang Kiai yang terkenal di
daerah Wilungan, Pasuruan bernama Abu Darrin. Kealimannya tidak hanya
terbatas di lingkungan Pasuruan, tetapi sudah menyebar ke berbagai
daerah lain, termasuk Madura. Kholil muda yang mendengar ada ulama yang
mumpuni itu, terbetik di hatinya ingin menimba ilmunya. Setelah segala
perbekalan dipersiapkan, maka berangkatlah Kholil muda ke pesantren Abu
Darrin dengan harapan dapat segera bertemu dengan ulama yang dikagumi
itu.Tetapi alangkah sedihnya ketika dia sampai di Pesantren Wilungan,
ternyata Kiai Abu Darrin telah meninggal dunia beberapa hari sebelumnya.
Hatinya dirundung duka dengan kepergian Kiai Abu Darrin. Namun karena
tekad belajarnya sangat menggelora maka Kholil segera sowan ke makam
Kiai Abu Darrin. Setibanya di makam Abu Darrin, Kholil lalu mengucapkan
salam lalu berkata: bagaimana saya ini Kiai, saya masih ingin berguru
pada Kiai, tetapi Kiai sudah meninggal
desah Kholil sambil menangis. Kholil lalu mengambil sebuah mushaf Al
Quran. Kemudian bertawassul dengan membaca Al Quran terus menerus sampai
41 hari
lamanya.Pada hari ke-41
tiba-tiba datanglah Kiai Abu Darrin dalam mimpinya. Dalam mimpi itu,
Kiai Abu Darrin mengajarkan beberapa ilmunya kepada Kholil. Setelah dia
bangun dari tidurnya, lalu Kholil serta merta dapat menghafal kitab
Imriti, Kitab Asmuni dan Alfiyah.
Di Datangi Macan
Suatu hari di bulan Syawal. Kiai Kholil tiba-tiba memanggil
santrinya. Anak-anakku, sejak hari ini kalian harus memperketat
penjagaan pondok pesantren. Pintu gerbang
harus senantiasa dijaga, sebentar lagi akan ada macan masuk ke pondok
kita ini.” Kata Syeikh Kholil agak serius. Mendengar tutur guru yang
sangat dihormati itu, segera para santri mempersiapkan diri. Waktu itu
sebelah timur Bangkalan memang terdapat hutan-hutan yang cukup lebat dan
angker. Hari demi hari, penjagaan semakin diperketat, tetapi macan yang
ditungu-tunggu itu belum tampak juga. Memasuki minggu ketiga, datanglah
ke pesantren pemuda kurus, tidak berapa tinggi berkulit kuning langsat
sambil menenteng kopor seng.
Sesampainya di depan pintu rumah SyeikhKholil, lalu mengucap salam.
Mendengar salam itu, bukan jawaban salam yang diterima, tetapi Kiai
malah berteriak memanggil santrinya ; Hey santri semua, ada
macan….macan.., ayo kita kepung. Jangan sampai masuk ke pondok.” Seru
Syeikh Kholil bak seorang komandan di medan perang.Mendengar teriakan
Syeikh kontan saja semua santri berhamburan, datang sambil membawa apa
yang ada, pedang, clurit, tongkat, pacul untuk mengepung pemuda yang
baru datang tadi yang mulai nampak kelihatan pucat. Tidak ada pilihan
lagi kecuali lari seribu langkah. Namun karena tekad ingin nyantri ke
Syeikh Kholil begitu menggelora, maka keesokan harinya mencoba untuk
datang lagi. Begitu memasuki pintu gerbang pesantren, langsung
disongsong dengan usiran ramai-ramai. Demikian juga keesokan harinya.
Baru pada malam ketiga, pemuda yang pantang mundur ini memasuki
pesantren secara diam-diam pada malam hari. Karena lelahnya pemuda itu,
yang disertai rasa takut yang mencekam, akhirnya tertidur di bawah
kentongan surau.Secara tidak diduga, tengah
malam Syeikh Kholil datang dan membantu membangunkannya. Karuan saja
dimarahi habis-habisan. Pemuda itu dibawa ke rumah Syeikh Kholil.
Setelah berbasa-basi dengan seribu alasan. Baru pemuda itu merasa lega
setelah resmi diterima sebagai santri Syeikh Kholil. Pemuda itu bernama
Abdul Wahab Hasbullah. Kelak kemudian hari santri yang diisyaratkan
macan itu, dikenal dengan nama KH. Wahab Hasbullah, seorang Kiai yang
sangat alim, jagoan berdebat, pembentuk komite Hijaz, pembaharu
pemikiran. Kehadiran KH Wahab Hasbullah di mana-mana selalu berwibawa
dan sangat disegani baik kawan maupun lawan bagaikan seekor macan,
seperti yang diisyaratkan Syeikh Kholil.
SANTRI MIMPI DENGAN WANITA
Dan diantara karomahnya, pada suatu hari menjelang pagi, santri bernama Bahar
dari Sidogiri merasa gundah, dalam benaknya tentu pagi itu tidak bisa
sholat subuh berjamaah. Ketidak ikutsertaanBahar sholat subuh berjamaah
bukan karena malas, tetapi disebabkan halangan junub. Semalam Bahar
bermimpi tidurdengan seorang wanita. Sangat dipahami kegundahan Bahar.
Sebab wanita itu adalah istri Kiai Kholil, istri gurunya. Menjelang
subuh, terdengar Kiai Kholil marah besar sambil membawa sebilah pedang
seraya berucap:“Santri kurang ajar.., santri kurang ajar…..Para santri
yang sudah naik ke masjid untuk sholat berjamaah merasa heran dan tanda
tanya, apa dan siapa yang dimaksud santri kurang ajar itu.
Subuh itu Bahar memang tidak ikut sholat berjamaah, tetapi
bersembunyi di belakang pintu masjid.Seusai sholat subuh berjamaah, Kiai
Kholil menghadapkan wajahnya kepada semua santri seraya bertanya ;
Siapa santri yang tidak ikut berjamaah?” Ucap Kiai Kholil nada
menyelidik.Semua santri merasa terkejut,
tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Para santri menoleh
ke kanan-kiri, mencari tahu siapa yang tidak hadir. Ternyata yang tidak
hadir waktu itu hanyalah Bahar. Kemudian Kiai Kholil memerintahkan
mencari Bahar dan dihadapkan kepadanya. Setelah diketemukan lalu dibawa
ke masjid. Kiai Kholil menatap tajam-tajam kepada bahar seraya berkata ;
Bahar, karena kamu tidak hadir sholat subuh berjamaah maka harus
dihukum. Tebanglah dua rumpun bambu di belakang pesantren dengan petok
ini Perintah Kiai Kholil. Petok adalah sejenis pisau kecil, dipakai
menyabit rumput. Setelah menerima perintah itu, segera Bahar
melaksanakan dengan tulus. Dapat diduga bagaimana Bahar menebang dua
rumpun bambu dengan suatu alat yang sangat sederhana sekali, tentu
sangat kesulitan dan memerlukan tenaga serta waktu yang lama sekali.
Hukuman ini akhirnya diselesaikan dengan baik. Alhamdulillah, sudah
selesai, Kiai Ucap Bahar dengan sopan dan rendah hati. Kalau begitu,
sekarang kamu makan nasi yang ada di nampan itu sampai habis, Perintah
Kiai kepada Bahar.Sekali lagi santri Bahar dengan patuh menerima hukuman
dari Kiai Kholil. Setelah Bahar melaksanakan hukuman yang kedua, santri
Bahar lalu disuruh makan buah-buahan sampai habis yang ada di nampan
yang telah tersedia. Mendengar perintah ini santri Bahar melahap semua
buah-buahan yang ada di nampan itu. Setelah itu santri Bahar diusir oleh
Kiai Kholil seraya berucap ; Hai santri, semua ilmuku sudah dicuri oleh
orang ini ucap Kiai Kholil sambil menunjuk ke arah Bahar. Dengan
perasaan senang dan mantap santri Bahar pulang
meninggalkan pesantren Kiai Kholil menuju kampung halamannya.Memang
benar, tak lama setelah itu, santri yang mendapat isyarat mencuri ilmu
Kiai Kholil itu, menjadi Kiai yang sangat alim, yang memimpin sebuah
pondok pesantren besar di Jawa Timur. Kia beruntung itu bernama Kiai
Bahar, seorang Kiai besar dengan ribuan santri yang diasuhnya di Pondok
Pesantren Sido Giri, Pasuruan, Jawa Timur.
Orang Arab Dan Macan Tutul
Suatu hari menjelang sholat magrib. Seperti biasanya Kiai Kholil
mengimami jamaah sholat bersama para santri Kedemangan. Bersamaan dengan
Kiai Kholil mengimami sholat, tiba-tiba kedatangan tamu berbangsa Arab.
Orang Madura menyebutnya Habib. Seusai melaksanakan sholat, Kiai Kholil
menemui tamunya, termasuk orang Arab yang baru datang itu. Sebagai
orang Arab yang mengetahui kefasihan Bahasa Arab. Habib menghampiri Kiai
Kholil seraya berucap ; Kiai, bacaan Al- Fatihah antum (anda) kurang
fasih tegur Habib. Setelah berbasa-basi beberapa saat. Habib
dipersilahkan mengambil wudlu untuk melaksanakan sholat magrib. Tempat
wudlu ada di sebelah masjid itu. Silahkan ambil wudlu di sana ucap Kiai
sambil menunjukkan arah tempat wudlu.
Baru saja selesai wudlu, tiba-tiba sang Habib dikejutkan dengan
munculnya macan tutul. Habib terkejut dan berteriak dengan bahasa
Arabnya, yang fasih untuk mengusir macan tutul yang makin mendekat itu.
Meskipun Habib mengucapkan Bahasa Arab sangat fasih untuk mengusir macan
tutul, namun macan itu tidak pergi juga.Mendengar ribut-ribut di
sekitar tempat wudlu Kiai Kholil datang menghampiri. Melihat ada macan
yang tampaknya penyebab keributan itu, Kiai Kholil mengucapkan sepatah
dua patah kata yang kurang fasih. Anehnya, sang macan yang mendengar
kalimat yang dilontarkan Kiai Kholil yang nampaknya kurang fasih itu,
macan tutul bergegas menjauh. Dengan kejadian ini, Habib paham bahwa
sebetulnya Kiai Kholil bermaksud memberi pelajaran kepada dirinya, bahwa
suatu ungkapan bukan terletak antara fasih dan tidak fasih, melainkan
sejauh mana penghayatan makna dalam ungkapan itu.
Jawaban Syeikh Kholil kepada tamunya
Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan
seorang ulama, manakah pendapat yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki
yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah
mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).Setelah berdebat tidak ada titik
temu. Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kiyahi Keramat; Kiyahi
Khalil bangkalan.
Ketika itu Kiyahi yang jadi maha guru para kiyahi pulau Jawa itu
sedang duduk didalam mushala, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke
Mushola sontak saja kiyahi Khalil berteriak. Maaliki yaumiddin ya
Habib, Maaliki yaumiddin Habib, teriak Kiyahi Khalil bangkalan menyambut
kedatangan Habib Jindan.
Tentu saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang Habib tak
perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin
ataukah maaliki yaumiddin itu.
Demikian cerita Habib Lutfi bin Yahya ketika menjelaskan perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari.
Tongkat Syeikh Kholil Dan Sumber Mata Air
Suatu hari Kiai Kholil berjalan ke arah selatan Bangkalan. Beberapa
santri menyertainya. Setelah berjalan cukup jauh, tepatnya sampai di
desa Langgundi, tiba-tiba Kiai Kholil menghentikan perjalanannya.
Setelah melihat tanah di hadapannya, dengan serta merta Kiai Kholil
menancapkan tongkatnya ke tanah. Dari arah lobang bekas tancapan Kiai
Kholil, memancarlah sumber air yang sangat jernih. Semakin lama semakin
besar. Bahkan karena terus membesar, sumber air tersebut akhirnya
menjadi kolam yang bisa dipakai untuk minum dan mandi. Kolam yang
bersejarah itu sampai sekarang masih ada. Orang Madura menamakannya
Kolla Al-Asror Langgundi. Letaknya sekitar 1 km sebelah selatan kompleks
pemakaman Kiai Kholil Bangkalan.
Kyai Hamid menikah pada usia 22 tahun dengan sepupunya sendiri, Nyai
H. Nafisah, putri KH Ahmad Qusyairi. Pasangan ini dikarunia enam anak,
satu di antaranya putri. Kini tinggal tiga orang yang masih hidup, yaitu
H. Nu’man, H. Nasikh dan H. Idris.
Kyai Hamid menjalani masa-masa awal kehidupan berkeluarganya tidak
dengan mudah. Selama beberapa tahun ia harus hidup bersama mertuanya di
rumah yang jauh dari mewah. Untuk menghidupi keluarganya, tiap hari ia
mengayuh sepeda sejauh 30 km pulang pergi, sebagai blantik (broker)
sepeda. Sebab, kata ldris, pasar sepeda waktu itu ada di desa Porong,
Pasuruan, 30 km ke arah barat Kotamadya Pasuruan.
Kesabarannya bersama juga diuji. Hasan Abdillah menuturkan, Nafisah
yang dikawinkan orangtuanya selama dua tahun tidak patut (tidak mau
akur). Namun ia menghadapinya dengan tabah. Kematian bayi pertama, Anas,
telah mengantar mendung di rumah keluarga muda itu.
Terutama bagi sang istri Nafisah yang begitu gundah, sehingga Kyai
Hamid merasa perlu mengajak istrinya itu ke Bali, sebagai pelipur lara.
Sekali lagi Nafisah dirundung kesusahan yang amat sangat setelah bayinya
yang kedua, Zainab, meninggal dunia pula, padahal umurnya baru beberapa
bulan. Lagi-lagi kiai yang bijak itu membawanya bertamasya ke tempat
lain. KH. Hasan Abdillah, adik istri Kiai Hamid, menuturkan, seperti
layaknya keluarga, Kyai Hamid pernah tidak disapa oleh istrinya selama
empat tahun.
Tapi, tak pernah sekalipun terdengar keluhan darinya. Bahkan
sedemikian rupa ia dapat menutupinya sehingga tak ada orang lain yang
mengetanuinya. “Uwong tuo kapan ndak digudo karo anak Utowo keluarga,
ndak endang munggah derajate
(Orangtua kalau tidak pernah mendapat cobaan dari anak atau keluarga, ia tidak lekas naik derajatnya)”, katanya suatu kali mengenai ulah seorang anaknya yang agak merepotkan.
Kesabaran beliau juga diterapkan dalam mendidik anak-anaknya. Menut
Idris, tidak pernah mendapat marah, apalagi pukulan dari ayahnya.
Menurut ldris, ayahnya lebih banyak memberikan pendidikan lewat
keteladanan. Nasihat sangat jarang diberikan. Sikap tawadlu’ sering
beliau sampaikan dengan mengutip ajaran Imam Ibnu Atha’illah dalam kitab
Al-Hikam; “Pendamlah wujudmu di dalam bumi khumul (ketidakterkenalan)” .
Artinya janganlah menonjolakan diri. Dan ini selalu dibuktikan dalam
kehidupannya sehari-hari. Bila ada undangan suatu acara, beliau memilih
duduk bersama orang-orang biasa, di belakang. Kalau ke masjid, dimana
ada tempat kosong disitu beliau duduk, tidak mau duduk di barisan depan
karena tidak mau melangkahi tubuh orang.
Kelembutan suaranya sama persis dengan kelembutan hatinya. Beliau
mudah sekali menangis. Apabila ada anaknya yang membandel dan akan
memarahinya, beliau menangis dulu, akhirnya tidak jadi marah. “Angel
dukane, gampang nyepurane”, kata Durrah, menantunya.
Kebersihan hatinya ditebar kepada siapa saja, semua orang merasa
dicintai beliau. Bahkan kepada pencuri pun beliau memperlihatkan
sayangnya. Beliau melarang santri memukuli pencuri yang tertangkap basah
di rumahnya. Sebaliknya pencuri itu dibiarkan pulang dengan aman,
bahkan beliau pesan kepada pencuri agar mampir lagi kalau ada waktu.
Karomah KH. Abdul Hamid Pasuruan
- Suatu saat dimasa orde baru ingin mengajak kyai Hamid masuk partai
pemerintah. kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu
tamunya dari kalangan birokrat itu. ketika surat persetujuan masuk
partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, kyai hamid
menerimanya dan menandatanganinya. anehnya pulpennya tak bisa keluar
tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. ahirnya kyai
hamid berkata “bukan saya lo yang gak mau, bolpointnya yang gak mau”.
itulah kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap
menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.
- Said Amdad Pasuruan seorang rasional. Mendengar
kewalian Kiai Hamid yang tersohor kemana-mana, dia jadi penasaran. Suatu
kali ia ingin mengetes, “Saya ingin diberi makan Kiai hamid. Coba dia
tahu apa tidak” katanya dalam hati ketika pulang dari Surabaya.
Setiba di Pasuruan dia langsung ke pondok Salafiyah pesantrennya Kiai Hamid.
Waktu itu pas mau jamaah sholat isya’. Usai sholat isya ia tidak
langsung keluar, membaca wirid dulu. Sekitar pukul 20.30 WIB, jamaah
sudah pulang semua. Lampu teras rumah Kiai Hamid pun sudah dipadamkan.
Dia melangkah keluar, Dia melihat orang melambaikan tangan dari rumah
Kiai Hamid. Dia pun menghampiri.
Ternyata yang melambaikan tangan adalah tuan rumah alias Kiai Hamid. “Makan disini ya,” kata beliau.
Diruang tengah hidangan sudah ditata. “Maaf ya, lauknya seadanya
saja. Sampeyan tidak bilang dulu sih” kata Kiai Hamid dengan ramahnya.
Said merasa di sindir, sejak itu dia percaya Kiai hamid adalah seorang
wali.
- Asmawi gundah gulana. Ia harus membayar hutang yang jatuh tempo.
Jumlahnya Rp. 300.000,- jumlah itu sangat besar untuk ukuran waktu itu. Hutang itu buat pembangunan masjid.
Asmawi sempat menangis saking sedihnya.
Darimana ia bisa memperoleh uang sebanyak itu? Pikirannya jadi buntu.
Dia melapor ke Kiai Hamid. “Laopo nangis sik onok yai, (mengapa menangis
masih ada kiai)” beliau menghibur. Lalu Kiai menyuruh
menggoyang-goyangkan pohon kelengkeng di depan rumah beliau. Daun-daun
yang berguguran disuruh ambil, diserahkan kepada
Kiai Hamid.
Beliau meletakan tangannya dibelakang tubuh, terus memasukannya ke
saku. Begitu dikeluarkan ternyata daun-daun di tangannya berubah menjadi
uang kertas.
Beliau menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng satunya lagi.
Daunnya diambil, terus tangan beliau dibawa kebelakang tubuh (punggung)
lalu dimasukkkan ke saku dan daun-daunnya sudah menjadi uang kertas.
Setelah dihitung ternyata jumlahnya Rp 225.000,- Alhamdulilah masih
kurang Rp. 75.000,-
Tiba-tiba ada tamu datang memberi Kia Hamid Rp. 75.000,- jadi pas.
Kiai Hamid banyak memberi ijazah (wirid) kepada siapa saja :
- Membaca Surat Al-Fatihah 100 kali tiap hari. Menurutnya,
orang yang membaca ini bakal mendapatkan keajaiban-keajaiban yang
terduga. Bacaan ini bisa dicicil setelah sholat Shubuh 30 kali,
selepas shalat Dhuhur 25 kali, setelah Ashar 20 kali, setelah
Maghrib 15 kali dan setelah Isya’ 10 kali.
- Membaca Hasbunallah wa ni’mal wakil sebanyak 450 kali sehari semalam.
- Membaca sholawat 1000 kali. Tetapi yang sering diamalkan Kiai Hamid adalah shalawat Nariyah dan Munjiyat.
- Membaca kitab Dala’ilul Khairat.
Pernah ada seorang wali besar di Tarim, guru dari Guru Mulia Almusnid
alhabib Umar bin Hafidh, namanya Hb Abdulqadir Almasyhur, ketika hb
munzir datang menjumpainya, maka habib itu yg sudah tua renta langsung
menangis.. dan berkata : WAHAI MUHAMMAD…! (saw), maka Hb Munzir berkata :
saya Munzir, nama saya bukan Muhammad.., maka habib itu berkata :
ENGKAU MUHAMMAD SAW..!, ENGKAU MUHAMMAD.. SAW!, maka Habib Munzir diam…
lalu ketika ALhabib Umar bin Hafidh datang maka segera alhabib
Abdulqadir almasyhur berkata : wahai umar, inilah Maula Jawa (Tuan
Penguasa Pulau Jawa), maka Alhabib Umar bin Hafidh hanya senyam senyum..
(kalo ga percaya boleh tanya pada alumni pertama DM)lihat kemanapun
beliau pergi pasti disambut tangis ummat dan cinta, bahkan sampai ke
pedalaman irian, ongkos sendiri, masuk ke daerah yg sudah ratusan tahun
belum dijamah para da’i, ratusan orang yg sudah masuk islam ditangannya,
banyak orang bermimpi Rasul saw selalu hadir di majelisnya,
Bahkan ada orang wanita dari australia yg selalu mimpi Rasul saw, ia
sudah bai’at dengan banyak thariqah, dan 10 tahun ia tak lagi bisa
melihat Rasul saw entah kenapa, namun ketika ia hadir di Majelis Hb
Munzir di masjid almunawar, ia bisa melihat lagi Rasulullah saw..maka
berkata orang itu, sungguh habib yg satu ini adalah syeikh Futuh ku, dia
membuka hijabku tanpa ia mengenalku, dia benar benar dicintai oleh
Rasul saw, kabar itu disampaikan pada hb munzir, dan beliau hanya
menunduk malu..
Ketika orang ramai minta agar Habib Umar maulakhela didoakan karena
sakit, maka beliau tenang tenang saja, dan berkata : Habib Nofel bin
Jindan yg akan wafat, dan Habib Umar Maulakhela masih panjang usianya..
benar saja, keesokan harinya Hb Nofel bin Jindan wafat, dan Hb Umar
maulakhela sembuh dan keluar dari opname.., itu beberapa tahun yg lalu..
ketika Habib Anis Alhabsyi solo sakit keras dan dalam keadaan kritis,
orang orang mendesak hb munzir untuk menyambangi dan mendoakan Hb Anis,
maka beliau berkata pd orang orang dekatnya, hb anis akan sembuh dan
keluar dari opname, Insya Allah kira kira masih sebulan lagi usia
beliau,..betul saja, Hb Anis sembuh, dan sebulan kemudian wafat..
Ketika gunung papandayan bergolak dan sudah dinaikkan posisinya dari
siaga 1 menjadi “awas”, maka Hb Munzir dg santai berangkat kesana,
sampai ke ujung kawah, berdoa, dan melemparkan jubahnya ke kawah, kawah
itu reda hingga kini dan kejadian itu adalah 7 tahun yg lalu (VCD nya
disimpan di markas dan dilarang disebarkan).
Demikian pula ketika beliau masuk ke wilayah Beji Depok, yg terkenal
dg sihir dan dukun dukun jahatnya., maka selesai acara hb munzir malam
itu, keesokan harinya seorang dukun mendatangi panitya, ia berkata :
saya ingin jumpa dg tuan guru yg semalam buat maulid disini..!, semua
masyarakat kaget, karena dia dukun jahat dan tak pernah shalat dan tak
mau dekat dg ulama dan sangat ditakuti, ketika ditanya kenapa??, ia
berkata : saya mempunyai 4 Jin khodam, semalam mereka lenyap., lalu
subuh tadi saya lihat mereka (Jin jin khodam itu) sudah pakai baju putih
dan sorban, dan sudah masuk islam, ketika kutanya kenapa kalian masuk
islam, dan jadi begini??, maka jin jin ku berkata : apakah juragan tidak
tahu?, semalam ada Kanjeng Rasulullah saw hadir di acara Hb Munzir,
kami masuk islam..!
Kejadian serupa di Beji Depok seorang dukun yg mempunyai dua ekor
macan jadi jadian yg menjaga rumahnya, malam itu Macan jejadiannya
hilang, ia mencarinya, ia menemukan kedua macan jadi2an itu sedang duduk
bersimpuh didepan pintu masjid mendengarkan ceramah hb munzir..
Demikian pula ketika berapa muridnya berangkat ke Kuningan Cirebon,
daerah yg terkenal ahli santet dan jago jago sihirnya, maka hb munzir
menepuk bahu muridnya dan berkata : MA’ANNABIY.. !, berangkatlah, Rasul
saw bersama kalian..maka saat mereka membaca maulid, tiba tiba terjadi
angin ribut yg mengguncang rumah itu dg dahsyat, lalu mereka mnta kepada
Allah perlindungan, dan teringat hb munzir dalam hatinya, tiba tiba
angin ribut reda, dan mereka semua mencium minyak wangi hb munzir yg
seakan lewat dihadapan mereka, dan terdengarlah ledakan bola bola api
diluar rumah yg tak bisa masuk kerumah itu..ketika mereka pulang mereka
cerita pd hb munzir, beliau hanya senyum dan menunduk malu..
Demikian pula pedande pndande Bali, ketika Hb Munzir kunjung ke Bali,
maka berkata muslimin disana, habib, semua hotel penuh, kami tempatkan
hb ditempat yg dekat dengan kediaman Raja Leak (raja dukun leak) di
Bali, maka hb munzir senyum senyum saja, keesokan harinya Raja Leak itu
berkata : saya mencium wangi Raja dari pulau Jawa ada disekitar sini
semalam..
Demikian pula ketika hb munzir dicaci maki dg sebutan Munzir ghulam
ahmad..!, karena ia tidak mau ikut demo anti ahmadiyah, beliau tetap
senyum dan bersabar, beliau memilih jalan damai dan membenahi ummat dg
kedamaian daripada kekerasan, dan beliau sudah memaafkan pencaci itu
sebelum orang itu minta maaf padanya, bahkan menginstruksikan agar
jamaahnya jangan ada yg mengganggu pencaci itu,kemarin beberapa minggu
yg lalu di acara Masjid alMakmur tebet hb munzir malah duduk
berdampingan dg si pencaci itu, ia tetap ramah dan sesekali bercanda dg
Da’i yg mencacinya sebagai murtad dan pengikut ahmadiyah..
Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad r.a, diangkat
menjadi mursyid di Mesjid Kholwat oleh Syeikh Tolhah r.a. dari Kalisapu
Cirebon. Kemudian beberapa tahun setelah itu, Syeikh Tholhah r.a
menyuruh beliau untuk mendirikan pesantren dan diamanati dengan nama
Pesantren itu SURYALAYA yang artinya TEMPAT CAHAYA juga amanat agar
pesantren itu dikembangkan, karena dalam pandangannya, Pesantren dengan
nama Suryalaya ini nantinya akan menjadi pusat perkembangan Thoriqoh
Qodiriyyah Naqsyabandiyyah di manca negara oleh putranya kelak yakni
Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin ( Abah Anom )
Diceritakan ketika Syeikh Abdullah Mubarok ( Abah Sepuh )
pulang berguru dari pulau Madura kepada Syeikh Kholil Bangkalan Abah
Sepuh langsung naik perahu tanpa dibekali dayung atau layar, dengan
hanya bekal sholawat Bani Hasyim yang dibacanya sepanjang perjalanan,
beliau sampai ke Cirebon. Artinya perahunya dijalankan hanya dengan
bacaan sholawat Bani Hasyim yang beliau dapatkan dari gurunya Syeikh
Kholil Bangkalan.
SHALAWAT BANI HASYIM
الْهَاشِمِىِّ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَسَلِّمْ تَ سْلِيْمً اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى النَّبِىِّ
Artinya :
Ya Allah, Berikanlah rahmat serta salam kepada seorang nabi keturunan Bangsawan Hasyim,
yakni Muhammad beserta keluarganya, semogalah tetap selamat dan sejahtera.
Karomah Syeikh Abdussalam bin Masyisy al-Hasani
Dikisahkan Syeikh Abu Hasan As-Syazili berkelana mencari
mursyid dan bertemu dengan Syekh Shalih Abi al-Fath al-Wasithi, yaitu
syekh yang paling berkesan dalam hatinya dibandingkan dengan syekh di
Iraq lainnya. Syekh Abu al-Fath berkata kepada Syekh Abu al-Hasan, “Hai
Abu al-Hasan engkau ini mencari Wali Qutb di sini, padahal dia berada di
negaramu? kembalilah, maka kamu akan menemukannya”.
Akhirnya, beliau kembali lagi ke Maroko, dan bertemu
dengan Syekh al-Shiddiq al-Qutb al-Ghauts Abi Muhammad Abdussalam bin
Masyisy al-Syarif al-Hasani. Syekh tersebut tinggal di puncak gunung.
Sebelum menemuinya, beliau membersihkan badan (mandi) di
bawah gunung dan beliau datang laksana orang hina dina dan penuh dosa.
Sebelum beliau naik gunung ternyata Syekh Abdussalam telah turun
menemuinya dan berkata, “Selamat datang wahai Ali bin Abdullah bin Abdul
Jabbar……”. Begitu sambutan syekh tersebut sembari menuturkan nasabnya
sampai Rasulullah SAW. Kemudia dia berkata, “Kamu datang kepadaku
laksana orang yang hina dina dan merasa tidak mempunyai amal baik, maka
bersamaku kamu akan memperoleh kekayaan dunia dan akhirat”.
Karomah Kyai Hasan
Di Jawa ada Kiyahi namanya Kiyai Hasan, daerah Kraksan.
Beliau itu termasuk wali Allah yang luar biasa. Kalau beliau mau
kedatangan Ahli Bait, keturunan nabi, Habib, beliau lari menjemput
sambil berkata ada raihatul musthafa, ada bau harum badan Rasulullah
Saw. Padahal kuturunan nabi itu entah baru sampai dimana.
Diantara Karamahnya. Suatu ketika, saat ada seorang haji
menyewa mobil, kebetulan yang jadi sopirnya Ahli Bait (Habib/Syarif).
Cuma haji ini tidak tahu kalau itu adalah Ahli Bait. Kiayi Hasan bilang
sama anak-anaknya: tolong kamar tidur dirapikan kita mau kedatangan
Habib. Habibnya siapa? Tanya putra kiyahi Hasan. Nanti saya tunjukan
kalau sudah datang, jawab kiyahi itu.
Setelah haji itu tiba dirumah kiyahi Hasan, kiyahi Hasan bertanya
pada haji itu, Haji supirmu dimana? Sopir kula asaren kiyai, Sopir saya
tidur Kiyai, Jawab Haji. Kiyahi balik bertanya, e’ka’emmah (dimana)? Di
Mobil Kiyahi, jawab Haji. Saya mau dekati dia boleh ya, kiyahi meminta
ijin.
Yi tangi Yi’ (Habib bangun Bib). Sopir itu kaget, karena seumur-umur
tidak ada yang manggil Ayi’, atau Habib. Akhirnya dikenal dengan bangsa
al Jufri. Kiyahi Hasan ditanya: darimana tahu sopir itu Habib? Dari bau
keringatnya, bau keringat kangjeng Nabi, kata kiyai Hasan.
Itu hebatnya ulama-ulama kita dahulu,
sejauh itu pandangannya, dari hormatnya pada Ahli Bait Nabi. Dan
tokoh-tokoh itu bukan satu dua, Imam Subki, Qadhi Iyadh tahu bagaimana
kedudukan Ahli Bait an Nabi dan juga ulama-ulama lain, ujar Al Habib M.
Lutfi bin Ali Yahya.
KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman
Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding
Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota
Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren
Al-Fithrah yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy.
Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena
Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Semasa hidup, Kiai Utsman
adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam,
tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki
penyebaran paling luas; cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak
negeri antara Yugoslavia dan Mesir di belahan barat serta Indonesia dan
Cina di belahan timur. Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas
penunjukan langsung Kiai Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan
mursyid ayahnya. Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.
Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan
perkara mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai
Asrori sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa
para penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan
Surabaya menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak
diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi
tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia
mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren
dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan
pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas
Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal
tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena
sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial
manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara,
majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam
suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai
Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi
siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa
membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini
mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan
orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura
dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai
Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya.
Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.
Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam
dan kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut
namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya.
Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan
keistimewaan-keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso
satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia
malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan
kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi,
“biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga.” Meskipun belajarnya
tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu membaca dan
mengajarkan kitab Ihya’ Ulum al-Din karya Al-Ghazali dengan baik. Di
kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh seseorang tanpa
melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering disebut ilmu
ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT). Adakah Kiai
Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia Tuhan, wallahu
a’lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran anaknya. Suatu ketika
Kiai Utsman pernah berkata “seandainya saya bukan ayahnya, saya mau kok
ngaji kepadanya.” Barangkali itulah yang mendasari Kiai Utsman untuk
menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada anak-anaknya yang lain yang lebih
tua) sebagai penerus kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah
padahal saat itu Kiai Asrori masih relatif muda, 30 tahun…. AL fatehah….
Tersebutlah seorang kiayi bernama
KH.Tohir
yang sedang menimba ilmu di salah satu pesantren di kotanya. Konon Sang
Guru yang mengajarkan ilmu di pesantrennya tersebut melarang Kiayi
Tohir untuk tidak menemui seorang kiayi besar yang tinggal di Suryalaya
bernama Abah Anom, apalagi berguru kepadanya. Namun, setelah melalui
penelusuran dan pembelajaran ilmu tassawuf yang diajarkan di Pesantren
Suryalaya, akhirnya kiayi Tohir meminta kepada Abah Anom untuk dibaiayat
atau ditalqin dzikir (di ajarkan dzikir Thoriqoh). Namun, tentu saja
dalam benak kiayi Tohir kunjungannya ke Abah Anom yang tanpa
sepengatahuan gurunya itu akan membuat murka di pesantren dikotanya.
Apalagi, setelah di talqin dzikir (pengajaran dzikir thoriqat) ada suatu
amanat dari Abah Anom yakni ucapan salam yang harus disampaikan kepada
guru dipesantrennya. Ketika kiayi Tohir sedang duduk menunggu sholat
berjamaah di Mesjid Nurur Asror di Kompleks Pesantren Suryalaya sebelum
ia kembali bertolak ke kampung halamannya, pikirannya terus berkecamuk
tidak bisa tenang. Ketika dalam benaknya terbersit bagaimana wajah murka
gurunya yang sedang memarahinya habis-habisan karena ketidak taatannya,
tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dengan sorban dan berkata: “Tong
sok goreng sangka kabatur, komo ka guru soranganmah, boa teuing teu
kitu! dalam bahasa Indonesia : “jangan selalu berburuk sangka terhadap
orang lain, apalagi terhadap guru sendiri, belum tentu seperti itu “.
Kiyai Thohir begitu kaget ternyata yang menepuk pundak dan membaca
pikirannya itu adalah guru ruhaninya yang baru, yaitu Syekh Ahmad
Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra (Abah Anom). Dari kejadian itu Kiai
Thohir mendapatkan pelajaran yang berharga bahwa seorang guru ruhani
Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqsyabandiyyah bisa mengetahui hati
murid-muridnya dimanapun mereka berada. Mursyid akan terus mengawasi dan
membimbing hati murid-muridnya agar hati selalu menuju Allah
Sepulang dari Pesantren Suryalaya dan kembali ke Pesantren
dikampungnya, Kiai Thohir menyampaikan amanat salam dari Mursyid Kammil
Mukammil Syekh ahmad Shohibul Wafa Tajul ‘Arifin ra kepada gurunya. Dan
ternyata, diluar dugaan Kiayinya yang dipesantren itu malah memuji Abah
Anom bahkan Kiayi Thohir sebagai salah satu murid kesayangannya itu
dianjurkan untuk menjalankan ajaran yang di bawa oleh Abah Anom sebagai
pewaris para Nabi.
Selanjutnya, Kiayi Thohir mengabdikan diri sepenuhnya kepada Abah
Anom dan mengamalkan ajaran yang telah diajarkannya. Akhirnya Kiai
Thohir dipercaya menjadi salah satu wakil Talqin, yaitu orang yang di
izinkan untuk mengajarkan atau mengijazahkan dzikir Thoriqoh kepada
orang yang membutuhkannya.
BAYANGAN WAJAH ABAH ANOM MEMBUAT SEORANG PEMUDA BERTAUBAT DARI HOBI MELACUR.
Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh
Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah
Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat
Indonesia.
Diceritakan ada seorang pemuda yang hobinya melacur, pemuda tersebut
berniat untuk berhenti dari pebuatannya yang tercela. Sudah berbagai
cara dilakukan untuk menghentikannya itu tidak membuat minat lacurnya
berhenti. Padahal, pelaksanaan amalan ibadah yang “super ketat” atas
petunjuk dari para kiai yang pernah dikunjungi dari berbagai daerahpun
belum berhasil. Jadi, Sudah tidak asing lagi baginya riyadloh (latihan)
seperti puasa, dzikir, sholat baik yang sifatnya wajib maupun sunat dan
amalan lainnya.
Dalam keadaan kondisi jiwa yang begitu kritis, datanglah pemuda itu
ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk menemui seorang Waliullah yaitu Abah
Anom dan menceritakan maksud kedatangannya. Abah Anom berkata : “Tidak
apa-apa, asal jangan dilakukan didepan Abah”. Setelah itu pemuda yang
hobi “jajan” perempuan ditalqin dzikir TQN untuk diamalkan.
Seperti biasa pemuda tersebut datang ke hotel yang telah dipesan
untuk melaksanakan hasrat nafsunya “meniduri” wanita pelacur. Setelah
siap-siap semuanya, terbesit dalam jiwanya akan bayangan wajah Abah Anom
“Asal jangan dihadapan Abah!”, pemuda itu terkejut dan gelisah, dengan
segera meninggalkan hotel. Gagallah keinginan nafsunya.
Dihari yang lain, pemuda itu datang lagi ke hotel untuk melaksanakan
hasrat nafsunya yang tidak terbendung. Namun, disaat detik-detik akan
melaksanakan maksiatnya muncul wajah Abah Anom “Tidak apa-apa, asal
jangan dihadapan Abah”. Pemuda itu kembali mengurungkan niatnya dan
kembali pulang.
Kejadian itu terus terulang selalu melihat bayangan wajah Abah Anom
disaat-saat akan melakukan maksiat dengan pelacur. Akhirnya, dengan
kejadian itu pemuda tersebut menghentikan dari hobinya melacur untuk
selamanya dan menjadi pengamal Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah.
Sesungguhnya kejadian itu suatu anugrah dari Allah untuk hamba yang
dicintai dengan perantara Mursyid sebagai pilihan-Nya. Subhanallah..
Bayangan wajah Mursyid itu adalah sebagai burhana robbihi (cahaya /
tanda dari Allah) yang membawa berkah terhadap pemuda tersebut.
Kita teringat akan kisah salah satu utusan Allah yaitu Nabi Yusuf as.
yang ditolong Allah ketika akan terjadi maksiat dengan Siti Zulaikha.
Dalam al-Qur’an Surat Yusuf ayat 24:
“Sesungguhnya wanita itu telah
bemaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf-pun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu (Zulaikha) andaikata tidak melihat
burhana robbihi yaitu tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami
memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS: Yusuf 24)
Dalam ayat ini terdapat perkataan Allah “Burhana Rabbihi”. Menurut
perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, juz II / 474 : “
Adapun
maksud “Burhaana Rabbihi” yang terlihat oleh Yusuf, maka terdapat
beberapa pendapat. Menurut sahabat Abdullah bin Abbas, Said, Mujahid,
Sa’id bin Jubair, Muhamad bin Sirin, Hasan, Qatadah, Ibnu Sholeh,
Dlohah, Muhammad bin Ishaq dan lain-lain yakni Yusuf melihat bayangan
ayahnya (Ya’kub), rupanya, bentuknya seakan-akan ayahnya marah-marah.
Menurut sebagian riwayat memukul dada Yusuf. Al-‘Aufi berpendapat dari
Ibnu Abbas, maksud perkataan itu ialah Yusuf teringat kepada bayangan
wajah suami Zulaikha yaitu raja Qithfir yang seolah-olah ada dirumah dan
mengetahui apa yang akan diperbuat Yusuf. Demikian juga Muhammad bin
Ishaq berpendapat yang sama.” (Tafsir Ibnu Katsir, II / 474) Subhanallah…
Menyadarkan Kyai Sakti
Dic
eritakan Bapak Etje Juardi, ada Ulama yang dikenal sakti namanya Kyai Jured.
Suatu hari Kiai tersebut memiliki rencana untuk menguji karomah Abah Anom dengan kesaktian yang dimilikinya.
Kiai tersebut datang ke Pondok Pesantren Suryalaya dengan
satu bis yang membawa 70 santrinya. Semua santri disebar disekitar
Pesantren Suryalaya, setelah Kiai itu masuk ke halaman Abah Anom, tidak
disangka Abah Anom sudah berada didepan madrasah dan menyuruh Kiai untuk
masuk ke madrasah Abah Anom bersama 70 santrinya yang telah disebar.
Kiai tersebut merasa kaget akan kasyaf (penglihatan batin)nya Mursyid
TQN. Abah Anom meminta Kiai tersebut dan para santrinya untuk makan
dahulu yang telah Beliau sediakan di madrasah.
Di dalam madrasah Kiai memuji Abah Anom tentang pesantren
Beliau yang sangat luas nan indah, tetapi dibumbui kritik secara halus
tentang kekurangan pesantrenya yaitu tidak adanya burung cendrawasih,
burung yang terkenal akan bulunya yang indah. Beliau hanya tersenyum dan
menimpalinya dengan jawaban yang singkat : “Tentu saja Kiai”. Suatu
di luar jangkauan akal setelah jawaban itu burung cendrawasih yang
berbulu indah melayang-layang di dalam madrasah yang sesekali hinggap.
Kejadian itu membuat terpesonanya akan karomah yang dimiliki Beliau,
Kiai itu diam seribu bahasa.
Keajaiban lagi, ketika makan dengan para santrinya yang 70 pun nasi yang di sediakan dalam bakul kecil itu tidak pernah habis.
Namun, Kiai ini masih penasaran dan tidak mau kalah begitu saja,
setelah makan Kiai tersebut meminta kepada Beliau untuk mengangkat
kopeah/peci yang telah “diisi“, yang sebelumnya dicoba oleh para
santrinya tidak terangkat sedikitpun.
Subhanallah .. hanya dengan tepukan tangan Abah Anom ke lantai kopeah itu melayang-layang.
Selanjutnya Kiai tersebut mengeluarkan batu yang telah disediakan
sebelumnya, dan batu itu dipukul dengan “kekuatan” tangannya sendiri
sehingga terbelah menjadi dua, sedangkan belahannya diberikan kepada
Abah Anom. Kiai itu meminta kepada Abah Anom untuk memukulnya
sebagaimana yang telah dicontohkannya.
Abah Anom mengatakan kepada kiai itu : “Abah tidak bisa
apa-apa, baiklah” selanjutnya batu itu diusap oleh tangan Abah dan batu
itu menjadi air ,subhanallah…
Kiai menguji lagi karomah Abah Anom dengan kelapa yang telah dibawa
santri dari daerahnya. Kiai tersebut meminta yang aneh-aneh kepada Abah
Anom agar isi dalam kelapa tersebut ada ikan yang memiliki sifat dan
bentuk tertentu.
Dengan tawadlunya Abah Anom menjawab: “Masya Allah, kenapa permintaan kiai ke Abah berlebihan?, Abah tidak bisa apa-apa .
Selanjutnya
Abah Anom berkata : “ Baiklah kalau begitu, kita
memohon kepada Allah. Mudah-mudahan Allah mengabulkan kita”. Setelah
berdoa Beliau menyuruh kelapa itu untuk dibelah dua, dan dengan izin
Allah didalam kelapa itu ada ikan yang sesuai dengan permintaan sang
kiai. Subhanalllah…
Selanjutnya, entah darimana datangnya di tangan Abah Anom
sudah ada ketepel, dan ketepel itu diarahkan atau ditembakan
kelangit-langit madrasah, sungguh diluar jangkauan akal, muncul dari
langit-langit burung putih yang jatuh dihadapan Kiai dan Beliau
Setelah kejadian itu, Kiai menangis dipangkuan Abah Anom Akhirnya Kiai memohon kepada Abah Anom untuk diangkat menjadi muridnya.
Kiai itu ditalqin dzikir TQN Setelah ditalqin Kiai
menangis dipangkuan Abah Anom sampai tertidur. Anehnya, Bangun dari
tidur sudah berada dimesjid. Subhanallah….
Abdul telah tiada. Bunga di atas kuburan Abdul yang
terletak di area kuburan blok Nyongklang Selajambe Kab. Kuningan tampak
masih segar sekalipun sudah tiga hari terpanggang panas terik matahari.
Begitu pula gundukan tanah merah tampak terlihat masih basah padahal
kuburan sekelilingnya sudah kering bahkan terlihat retak-retak akibat
kemarau berkepanjangan.
Sepintas, tak ada yang istimewa pada kuburan tersebut.
Sama saja seperti kuburan yang lainnya. Namun sesuatu yang beda akan
terasa disana. Wangi bunga akan tercium manakala orang melewati kuburan
tersebut. Emangnya, siapa sich, yang “tertidur” di dalam sana? Inilah
kisahnya….
Adalah Abdul, seorang laki-laki yang 3/4 usianya
dihabiskan dalam lembah kemaksiatan. Di kota Metropolitan, Abdul
menjelma menjadi bajingan yang Super Haram Jadah. Ia adalah jagoan yang
tak pernah kenal rasa takut. Bagi sesama penjahat, Abdul adalah momok
yang menakutkan. Bagi polisi lelaki yang sekujur tubuhnya dipenuhi tato
wanita telanjang itu merupakan sosok penjahat yang super licin yang
sulit ditangkap karena kepandaiannya menggunakan jampi-jampi sehingga
mampu berkelit dari kejaran aparat. Kapanpun dan dimanapun, perbuatan
maksiat tak pernah ia lewatkan.
Hingga suatu malam di bulan November 2005….. Niat
jahatnya muncul kembali ketika melihat seorang penumpang wanita
sendirian di mobil omprengan daerah Plumpang, Jakarta Utara. Bersama dua
orang temannya, ditodongkannya pisau ke arah sopir dan kernet yang
tidak berdaya menghadapi ancaman tersebut. Keduanya lalu diikat lalu
Abdul CS. membawa kendaraan tersebut ke salah satu tempat di Bogor yang
sudah mereka persiapkan sebelumnnya.
Sesampainya di tempat, Abdul CS. bermaksud untuk
memperkosa wanita cantik tersebut. Dengan cara paksaan, wanita itu
-sebut saja Sinta- diminta untuk melayani nafsu binatangnya. Namun Sinta
berupaya sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari bahaya sambil
berteriak : “Abah, Abah, Abah, tolong saya!”. Subhanalloh, atas
kehendak-Nya, disaat Abdul akan melampiaskan nafsu kebinatangannya,
tiba-tiba saja “burung” miliknya mendadak terkulai lemas dan ia
merasakan kesakitan yang luar biasa. Begitu juga kedua temannya yang
akan memperkosa Sinta mengalami hal serupa. Dalam keadaan seperti itu,
Sinta langsung melarikan diri………..
Setelah kejadian tersebut, Abdul CS mengalami nasib naas.
Kemaluannya membengkak dan tiga bulan kemudian, dua orang temannya mati
mengenaskan akibat “burung”nya MEMBESAR. Untunglah, Abdul cepat sadar.
Ia tahu, bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman dari Allah atas
dosa-dosa mereka yang telah diperbuat. Lalu, ia menemuia salah seorang
temannya yang sudah terlebih dahulu insyaf dan bertaubat.
Setelah diutarakan maksud dan kedatangannya, teman Abdul
tersebut membawanya ke salah satu Majlis Dzikir dan kemudian bertaubat.
Melalui Kiayi yang menuntunnya, iapun tahu bahwa taubat tidak berarti
harus menghilangkan seluruh tato yang ada ditubuhnya. Dengan semangat
yang kuat dan tekad yang membaja, Abdulpun mendapatkan Talqin Dzikir dan
mengamalkan semua amaliahnya seperti Khotaman meskipun dia hafalkan
dari latinnya.
Teman-teman seprofesi dulu di Jakarta banyak yang ia
temui sehingga dia memutuskan untuk hijrah dari Jakarta ke kampung
halamannya, takut jika niat jahatnya kembali muncul. Di kampung
halamannya, masyarakat tidak begitu saja bisa langsung menerimanya,
malah menaruh rasa curiga bahkan tak jarang kata-kata pedas sering
dilontarkan kepadanya. Berbekal TANBIH dan dzikrullah, ia tetap
tersenyum dan berbaik budi. Sehingga akhirnya masyarakatpun dapat
menerima, bahwa Abdul telah kembali ke jalan yang lurus.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dia menjadi buruh tani
dan pekerjaan serabutan lainnya hanya untuk sesuap nasi sehingga tetap
bisa melaksanakan amaliah dzikrullah seperti yang pernah didapatkannya
di Jakarta. Hingga akhirnya, pada hari Jum’at di tahun 2006 selepas
Subuh, ia dipanggil kembali oleh Allah dalam posisi Tawajuh.
DAGING BERUBAH JADI MANUSIA
Cerita ini diambil dari ceramahnya KH.M.Abdul Gaous Saefulloh
Al-Maslul atau Ajengan Gaos salah satu wakil Talqin Thoriqoh Qodiriyyah
Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Jawa Barat
Indonesia.
KH. Maksum memiliki seorang istri yang sedang mengandung.
Menurut fonis dokter, istri kiayi tersebut bukanlah kehamilan normal
yang biasanya terjadi pada seorang wanita. Namun istri KH.Maksum di
vonis menderita kangker dan harus segera dioperasi.
Sang Kiayi akhirnya datang ke Suryalaya ingin bertemu
Pangersa Abah Anom untuk meminta doa beliau agar istrinya diberi
kelancaran saat operasinya nanti. Ketika kiayi Maksum mengutarakan
maksudnya tersebut, Abah hanya berkata: “Heug, sing jadi jelema”, dalam
bahasa Indonesia: iya, jadi manusia, maksudnya adalah semoga kandungan
istri kiayi Maksum menjadi manusia dengan izin Allah.
Dan ternyata, baru saja istri kiayi Maksum satu langkah
keluar dari rumah Pangersa Abah, dia merasakan gerakan-gerakan dalam
rahimnya itu, subhanallah. Kontan saja istri kiayi Maksum kaget, dan
langsung memeriksakan dirinya ke Dokter. Lalu apa kata Dokter?
Subhanallah, Dokter pun sama terkejutnya dengan pasangan suami istri
Kiayi Maksum tersebut.
Allahu Akbar, kun fayakun, dengan izin-Nya melalui doa
Kekasih-Nya, daging jadi yang asalnya akan diangkat tersebut, ternyata
berubah menjadi sesosok manusia kecil yang menggemaskan berjenis kelamin
laki-laki. Ya, ternyata setelah dioperasi daging jadi itu berubah
menjadi seorang bayi, yang diberi nama Sufi Firdaus.
Idos panggilan anak ini, hingga saat ini masih hidup dan
mengabdikan dirinya untuk menjadi murid Syeikh Ahmad Shohibul wafa Tajul
‘Arifin qs. (Abah Anom).
Rumah Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid
(Tanggul-Jember) tidak pernah sepi dari para tetamu yang datang, beliau
sering mendapat kunjungan dari berbagai tokoh ulama, bahkan para pejabat
tinggi Negara sekalipun. Mereka datang untuk bersilahturahmi sampai
membahas berbagai permasalahan kehidupan. Al-Habib Sholeh melayani para
tetamunya dengan penuh suka cita, siapa pun yang bertamu akan dijamu
sebaik mungkin. Beliau menimba sendiri air sumur untuk keperluan mandi
dan wudhu para tamunya. Al-habib Sholeh begitu hormat kapada tamunya,
bahkan sebelum tamunya menikmati hidangan yang telah disediakan, beliau
tak akan menyentuh hidangan itu. Beliau baru makan setelah hidangan itu
disantap oleh para tamunya.
KH. Ali bin Maksum bin Ahmad dilahirkan di Lasem, kota tua di Jawa
Tengah dari keluarga ulama keturunan Sayyid Abdurrahman alias Pangeran
Kusumo bin Pangeran Ngalogo alias Pangeran Muhammad Syihabudin Sambu
Digdadiningrat alias Mbah Sambu. Garis keturunan ini banyak melahirkan
keluarga pesantren yang tersebar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Masa muda beliau habiskan dengan berguru dari pesantren ke pesantren.
Dimulai dari ayahnya sendiri yang juga seorang kyai ulama besar, beliau
kemudian nyantri kepada Kyai Amir Pekalongan untuk kemudian melanjutkan
kepada Kyai Dimyati Tremas Pacitan Jawa Timur. Sejak di Termas inilah
beliau terlihat menonjol dan akhirnya ikut membantu gurunya mengajar dan
mengurus madrasah pesantren dan membuat karangan tulisan.
Tak lama setelah diambil menantu oleh KH M. Munawwir al Hafidh al
Muqri Krapyak Yogyakarta, beliau dibantu oleh seorang saudagar Kauman
Yogyakarta untuk dapat berhaji ke Mekah. Kesempatan ini beliau
pergunakan pula untuk melanjutkan mengaji tabarrukan kepada para ulama
Mekah: Sayyid Alwi al Maliki Al Hasani, Syaikh Masyayikh Hamid Mannan,
Syaikh Umar Hamdan dan sebagainya.
Setelah dua tahun mengaji di Mekah Kyai Ali kembali ke tanah Jawa.
Sedianya beliau hendak tinggal di Lasem membantu ayahnya mengembangkan
pesantren. Namun, sepeninggal Kyai Munawwir Krapyak, Pondok Krapyak
memerlukan beliau untuk melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan
bersama-sama dengan KHR. Abdullah Affandi Munawwir dan KHR. Abdul Qadir
Munawwir.
Akhirnya beliau menghabiskan umur dan segenap daya upaya beliau untuk
merawat dan mengembangkan Pondok Krapyak, yang pada saat diasuh
mendiang Kyai Munawwir merupakan cikal bakal pesantren al Qur’an di
Indonesia.
Di bidang pendidikan pesantren, beliau merintis pola semi moderen
dengan sistem klasikal hingga berkembanglah madrasah-madrasah hingga
saat ini. Beliau juga diminta untuk menjadi dosen luar biasa pada
Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Di bidang kemasyarakatan dan politik, beliau pernah menjadi anggota
majlis Konstituante, sebuah lembaga pembuat Undang-Undang Dasar pada
masa rejim Orde Lama. Dalam organisasi para kyai, Nahdlatul Ulama,
beliau pernah memangku jabatan Rais ‘Aam Syuriyyah yang mengantarkan
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama keluar dari jalur politik pada masa rejim Orde
Baru.
Di sela-sela mengasuh seribuan santrinya, beliau menyempatkan diri
untuk memberikan pengajian di masyarakat, mengawasi sendiri pembangunan
gedung-gedung pondok dan menulis kitab-kitab. Hujjah Ahlis Sunnah wal
Jama’ah, Tasrif ul Kalimah fis Shorf, Ilmu Mantiq, adalah beberapa dari
kitab berbahasa Arab susunan beliau.
Sebelum meninggal pada akhir 1989, dari sentuhan tangan beliau telah
dilahirkan ratusan kyai dari ribuan santri yang mengaji pada beliau pada
kurun 1946 hingga 1989. Dari keteguhan beliau, Pondok Krapyak beberapa
hari sebelum beliau meninggal menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar
Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, pertemuan paling bergengsi organisasi para
ulama Indonesia.
Dari kesabaran beliau yang selama hidup dibantu oleh istrinya Nyai
Hasyimah Munawwir, telah berdiri dan berkembang Taman Kanak-Kanak,
Madrasah Diniyyah, Madrasah Tsanawiyyah, Madrasah Aliyah, Madrasah
Tahfidzil Qur’an dan Madrasah Takhassusiyah untuk para santri mahasiswa.
Pondok Pesantren Krapyak, setelah kemangkatan beliau tahun 1989,
pengelolaannya ditangani oleh lembaga berbadan hukum dengan nama Yayasan
Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Yayasan ini sekarang
dipimpin oleh KH Attabik Ali yang merupakan putra pertama dari KH Ali
Maksum.
Al fatehah……..
Salam Takdzim Pangreksa Pondok Gendheng Barokah Bintaro- Jakarta.. Mbah Kassam
Dia salah seorang ulama yang menjadi penerang umat di zamannya.
Cahaya keilmuan dan ahlaqnya menjadi teladan bagi mereka yang mengikuti
jejak ulama salaf
Suatu malam, beberapa tahun lalu, ketika ribuan jamaah tengah
mengikuti taklim di sebuah masjid di Surabaya, tiba-tib…a listrik padam.
Tentu saja kontan mereka risau, heboh. Mereka satu persatu keluar,
apalagi malam itu bulan tengah purnama. Ketika itulah dari kejauhan
tampak seseorang berjalan menuju masjid. Ia mengenakan gamis dan sorban
putih, berselempang kain rida warna hijau. Dia adalah Habib Muhammad bin
Husein bin Zainal Abidin bin Ahmad Alaydrus yang ketika lahir ia diberi
nama Muhammad Masyhur.
Begitu masuk ke dalam masjid, aneh bin ajaib, mendadak masjid terang
benderang seolah ada lampu neon yang menyala. Padahal, Habib Muhammad
tidak membawa obor atau lampu. Para jamaah terheran-heran. Apa yang
terjadi? Setelah diperhatikan, ternyata cahaya terang benderang itu
keluar dari tubuh sang habib. Bukan main! Maka, sejak itu sang habib
mendapat julukan Habib Neon.
Al-Imam Ali Zainal Abidin jika meminjamkan uang, tak pernah meminta kembali uangnya. Beliau
jika meminjamkan pakaian, tak pernah meminta kembali pakaiannya. Beliau jika
sudah berjanji, tak mau makan dan minum, sampai beliau dapat memenuhi janjinya.
Ketika beliau berhaji atau berperang mengendarai tunggangannya, beliau tak
pernah memukul tunggangannya itu.
Di tengah malam yang gelap gulita itu, Ali Zainal Abidin membawa
karung-karung tepung dan gandum di atas punggungnya yang lemah dan
kurus. Ia berkeliling di kota Madinah memikul karung-karung itu, lalu
menaruhnya di depan pintu rumah orang-orang yang membutuhkan nya.
Di saat suasana hening dan sepi, di saat orang-orang tertidur pulas,
Ali Zainal Abidin memberikan sedekah kepada fakir miskin di pelosok
Madinah. “Alhamdulillah…, harta titipan sudah kusampaikan kepada yang
berhak,”kata Ali Zainal Abidin. Lega hatinya dapat menunaikan pekerjaan
itu sebelum fajar menyingsing. Sebelum orang-orang terbangun dari
mimpinya.
Ketika hari mulai terang, orang-orang berseru kegirangan mendapatkan
sekarung tepung di depan pintu. “Hah! Siapa yang sudah menaruh karung
gandum ini?!” seru orang yang mendapat jatah makanan. “Rezeki Allah
telah datang! Seseorang membawakan nya untuk kita!” sambut yang lainnya.
Begitu pula pada malam-malam berikutnya, Ali Zainal Abidin selalu
mengirimkan karung-karung makanan untuk orang-orang miskin. Dengan
langkah mengendap-endap, kalau-kalau ada yang memergokinya tengah
berjalan di kegelapan malam. Ia segera meletakan karung-karung di muka
pintu rumah orang-orang yang kelaparan.
“Sungguh! Kita terbebas dari kesengsaraan dan kelaparan! Karena
seorang penolong yang tidak diketahui!” kata orang miskin ketika pagi
tiba. “Ya! Semoga Allah melimpahkan harta yang berlipat kepada sang
penolong…,” timpal seorang temannya.
Dari kejauhan, Ali Zainal Abidin mendengar semua berita orang yang
mendapat sekarung tepung. Hatinya bersyukur pada Allah. Sebab, dengan
memberi sedekah kepada fakir miskin hartanya tidak akan berkurang
bahkan, kini hasil perdagangan dan pertanian Ali Zainal Abidin semakin
bertambah keuntungannya.
Tak seorang pun yang tahu dari mana karung-karung makanan itu? Dan
siapa yang sudah mengirimkannya? Ali Zainal Abidin senang melihat kaum
miskin di kotanya tidak mengalami kelaparan. Ia selalu mencari tahu
tentang orang-orang yang sedang kesusahan. Malam harinya, ia segera
mengirimkan karung-karung makanan kepada mereka.
Malam itu, seperti biasanya, Ali Zainal Abidin memikul sekarung
tepung di pundaknya. Berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan. Tiba-tiba
tanpa di duga seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya!
“Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau tidak…,” orang bertopeng
itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Ali Zainal Abidin.
Beberapa saat Ali terperangah. Ia tersadar kalau dirinya sedang di
rampok. “Ayo cepat! Mana uangnya?!” gertak orang itu sambil mengacungkan
pisau. Ali menurunkan karung di pundaknya, lalu sekuat tenaga
melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok sehingga membuat orang
bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Ternyata beban karung itu
mampu membuatnya tak dapat bergerak. Ali segera menarik topeng yang
menutupi wajahnya. Dan orang itu tak bisa melawan Ali.
“Siapa kau?!” tanya Ali sambil memperhatikan wajah orang itu. “Ampun,
Tuan….jangan siksa saya…saya hanya seorang budak miskin…,”katanya
ketakutan. “Kenapa kau merampokku?” Tanya Ali kemudian. “Maafkan saya,
terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan,” sahutnya dengan
wajah pucat.
Ali melepaskan karung yang menimpa badan orang itu. Napasnya
terengah-engah. Ali tak sampai hati menanyainya terus. “Ampunilah saya,
Tuan. Saya menyesal sudah berbuat jahat…” “Baik! Kau kulepaskan. Dan
bawalah karung makanan ini untuk anak-anakmu. Kau sedang kesusahan,
bukan?” kata Ali.
Beberapa saat orang itu terdiam. Hanya memandangi Ali dengan takjub.
“Sekarang pulanglah!” kata Ali. Seketika orang itu pun bersimpuh di
depan Ali sambil menangis. “Tuan, terima kasih! Tuan sangat baik dan
mulia! Saya bertaubat kepada Allah…saya berjanji tidak akan
mengulanginya,” kata orang itu penuh sesal.
Ali tersenyum dan mengangguk–anggukkan kepalanya. “Hai, orang yang
bertaubat! Aku merdekakan dirimu karena Allah! Sungguh, Allah Maha
pengampun.” Orang itu bersyukur kepada Allah. Ali memberi hadiah
kepadanya karena ia sudah bertaubat atas kesalahannya.
“Aku minta, jangan kau ceritakan kepada siapapun tentang pertemuanmu
denganku pada malam ini…,” kata Ali sebelum orang itu pergi.” Cukup kau
doakan agar Allah mengampuni segala dosaku,” sambung Ali, dan orang itu
menepati janjinya. Ia tidak pernah mengatakan pada siapa pun bahwa
Ali-lah yang selama ini telah mengirimkan karung-karung makanan untuk
orang-orang miskin.
Suatu ketika setelah wafatnya Ali Zainal Abidin, orang yang
dimerdekakan Ali segera bertakziah ke rumahnya. Ia ikut memandikan
jenazahnya bersama orang-orang. Orang-orang itu melihat bekas-bekas
hitam di punggung di pundak jenazah Ali. Lalu mereka pun bertanya, “Dari
manakah asal bekas-bekas hitam ini?” “Itu adalah bekas karung-karung
tepung dan gandum yang biasa diantarkan Ali ke seratus rumah di
Madinah,” kata orang yang bertaubat itu dengan rasa haru.
Barulah orang-orang tahu dari mana datangnya sumber rezeki yang
mereka terima itu. Seiring dengan wafatnya Ali Zainal Abidin,
keluarga-keluarga yang biasa di beri sumbangan itu merasa kehilangan.
Orang yang bertaubat itu lalu mengangkat kedua tangan seraya berdo’a,”
Ya Allah, ampunilah dosa Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib, cucu
Rasulullah Saw.”
KH Abdul Chalim Majalengka (1898-1972): Pengurus SI Hijaz Termuda
Di balik setiap peristiwa-peristiwa penting sejarah, tentu terdapat
nama-nama yang melambung. Nama-nama yang kemudian menjadi terkenal dan
menjadikan figur-figur tertentu sebagai idola dan panutan di kemudian
hari. Nama-nama inilah yang kemudian disebut sebagai tokoh. Beberapa di
antaranya bahkan melegenda dan bertahan hingga beberapa generasi.
Namun tentu saja, tidak semua nama-nama yang terlibat dalam setiap
peristiwa penting, kemudian ikut menjadi nama penting yang selalu
disebut-sebut khayalak setelahnya. Di balik berdirinya Nahdlatul Ulama
(NU), terdapat nama-nama besar yang kemudian melegenda dan dikenang
hingga beberapa generasi. Namun tentu saja ada nama-nama yang juga
sangat berperan dalam proses kelahiran NU sembari tetap menjadi
nama-nama yang bersahaja dan merakyat. Tetap menjadi nama yang tidak
menimbulkan rasa menjauh dari dunia kelahirannya. Salah satu di antara
nama-nama yang tetap menjadi dekat dengan rakyat, tetap menjadi nama
rakyat adalah KH Abdul Chalim bin Kedung, Leuwimunding Majalengka.
Ulama kelahiran tahun 1898 ini merupakan bagian sejarah besar. Namun
tidak serta-merta menjadikan dirinya melambung manjauh dari rakyat
kebanyakan. Meski namanya tercatat dalam berbagai peristiwa penting,
namun KH Abdul Chalim tetap dikenal sebagai bagian dari rakyat
kebanyakan.
Pentingnya Solidaritas Sosial dan Moderat
Hal ini dikarenakan KH Abdul Chalim menerapkan prinsip-prinsip
solidaritas sosial sepanjang hidupnya. Solidaritas (ashobiyyah) inilah
yang juga dididikkan kepada setiap santrinya. Solidaritas yang dianut
oleh KH Abdul Chalim ini berlaku dalam kelompok kecil maupun komunitas
yang besar. Menurut KH Abdul Chalim, Solidaritas sangatlah penting dalam
mempererat jalinan hubungan di antara komunitas-komunitas agama maupun
politik. Tujuan gerakan keagamaan tidak akan tercapai tanpa adanya
solidaritas politik.
Prinsip solidaritas juga perlu diterapkan sepanjang masa karena
solidaritas merupakan salah satu barometer keseimbangan ibadah. Di mana
ibadah yang dilakukan dengan benar sesuai dengan ketentuan syara’ dapat
mendekatkan diri kepada Allah. Namun agar tidak terjebak dalam
pengertian ibadah yang sempit, yakni ritual semta. Maka perlu dilakukan
sebuah penyeimbangan. Nah menurut KH Abdul Chalim, penyeimbangan ini
dapat dilaksanakan dengan terus menumbuhkan solidaritas dalam setiap
sendi umat Islam.
Solidaritas ini sendiri, dapat berupa solidaritas politik maupun
solidaritas sosial. Solidaritas politik artinya solidaritas bersama umat
Islam untuk mencapai tujuan-tujuan kenegaraan dan kebangsaaan.
Sedangkan solidaritas kemasyarakatan adalah kebersamaan umat Islam
dalam menciptakan harmonisasi kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan
umat Islam tidak monoton, memandang nilai ibadah bukan hanya dari sisi
ibadah ritual mahdah saja. Namun keseluruhan kehendak dan usaha untuk
mewujudkan kehidupan yang selaras dengan prinsip-prinsip syariah juga
merupakan bentuk ibadah kepada Allah SWT.
Dalam pandangan KH Abdul Chalim, kepasrahan total dan tawakkal kepada
Allah SWT adalah hal yang senantiasa diri dan seluruh keluarga serta
murid-muridnya. Namun demikian, KH Abdul Chalim juga sangat
mengedepankan kompromi dalam mencapai kesepakatan-kesepakatan melalui
musyawarah.
Sifat terbuka yang dimiliki oleh KH Abdul Chalim ini tidak lepas dari
pengaruh yang ditorehkan oleh guru tercintanya, KH Wahab Hasbullah
Jombang. Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah
mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para
santri. Di mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi
Abdul Chalim dalam berguru dan menularkan kemempuan ilmiahnya.
Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial
keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH
Abdul Chalim. Bagi KH Abdul Chalim pendekatan sosial kepada masyarakat
untuk menerapkan kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan
masyarakat menupakan sebuah terobosan yang sangat urgen dalam
menyebarkan konsep-konsep keislaman yang membumi.
Kondisi perjuangan fisik kala itu menjadikan konsep-konsep yang
ditawarkan oleh KH Abdul Chalim dapat diterima oleh rekan-rekannya di
Nahdlatul Wathan. Konsep-konsep yang dimaksudkan sebagai pendekatan
sosial adalah membuat perbandingan-perbandingan kiasan antara
kondisi-kondisi yang digambarkan dalam kitab-kitab kuning dengan
kenyataan hidup yang dialami oleh masyarakat Nusantara saat itu. Yakni
merealisasikan berdirinya sebuah negara merdeka yang dapat menaungi
seluruh penduduknya dalam sebuah aturan yang disepakati bersama.
Dengan demikian, dalam pandangan KH Abdul Chalim, solidaritas warga
tetap dapat dipertahankan setelah penjajahan berhasil dienyahkan dari
Nusantara kelak. Pendapat-pendapatnya mengenai solidaritas masyarakat
Muslim, khususnya di tanah jajahan Hindia Belanda ini didapatkannya dari
pengalamannya selama berguru kepada para ulama. Sejak dari daerah
sekitar tanah kelahirannya ketika kecil hingga ke darah-dararah lain di
Jawa Barat maupun Jawa Timur. Di mana Pesantren Trajaya di Majalengka,
Pesantren Kedungwuni di kadipaten dan Pesantren Kempek di Cirebon adalah
tempat Abdul Chalim menimba ilmu semasa kecilnya.
Mendamaikan Sengketa para Senior
Pada tahun 1914 ketika usianya baru menginjak enam belas tahun, Abdul
Chalim berkesempatan untuk menuntut menunaikan ibadah haji dan menuntut
ilmu ke tanah Hijaz. Di sanalah Abdul Chalim sempat menimba ilmu secara
langsung dari Abu Abdul Mu’thi, Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani
yang lebih tersohor dengan sebutan Imam Nawawi al-Bantani.
Ketika menuntut ilmu di Hijaz inilah KH Abdul Chalim bertemu dengan
berbagai ulama Nusantara dari daerah-daerah lainnya. Dari sinilah
beberapa ulama ini kemudian menjadi teman sekaligus gurunya. Salah satu
di antara ulama yang paling akrab sebagai teman sekaligus gurunya ini
adalah KH Wahab Hasbullah Jombang. Saat itu Abdul Chalim adalah anggota
sekaligus pengurus Sarekat Islam (SI), termuda di Hijaz. Di mana SI
adalah organisasi para ulama Nusantara yang berkonsentrasi untuk
menentang kebijakan-kebijakan pemerintah penjajahan Hindia Belanda di
Nusaantara. Melalui SI, kebijakan-kebijakan pemerintah jajahan yang
tidak sesuai dengan syariat Islam dan sangat merugikan rakyat, ditentang
secara konstitusional. Hingga pada gilirannya, para ulama pengurus SI
kemudian menggabungkan diri ke NU setelah organisasi yang terakhir ini
didirikan pada tahun 1926.
Selama menuntut ilmu di Mekkah inilah sifat moderat dan kompromi
sebagi ulama yang berjiwa besar ditunjukkan oleh Abdul Chalim. KH Abdul
Chalim-lah yang mendamaikan KH Wahab Hasbullah Jombang dan KHR Asnawi
Kudus ketika keduanya terlibat sebuah persengketaan di Hijaz. Pada waktu
itu kedua ulama yang sedang bersengketa ini merupakan senior sekaligus
guru dari KH Abdul Chalim. Sementara itu Abdul Chalim juga patuh ketika
KH Wahab Hasbullah menegurnya karena sering memperdengarkan kidung
bergaya Pasundan ketika mereka sedang mengulang-ulang pelajaran.
Kelahirannya sebagai putra tunggal seorang kuwu di Majalengka
menjadikan KH Abdul Chalim tidak cangung lagi ketika dilibatkan dalam
berbagai kepengurusan di SI Hijaz. Demikian pun ketika ia kembali ke
Tanah Air pada tahun 1917.
Sepulangnya dari tanah Suci, KH Abdul Chalim membantu orang tuanya di
kampung untuk meringankan penderitaan rakyatnya akibat penjajahan
belanda yang kian hari kian kejam saja.
Abdul Chalim terhitung menikahi empat orang wanita. Pada usia 21
tahun Abdul Chalim menikahi gadis Petalangan, Kuningan sebagai isteri
pertama. Tiga tahun kemudian, Abdul Chalim menikahi Siti Noor, gadis
asal Pasir Muncang Majalengka. Dalam perjalanan untuk mencari
penghidupan ke daerah Jakarta sebagai pelayan toko dan kuli panggul di
stasiun kereta api –meski dirinya adalah anak seorang kuwu, Abdul Chalim
menyempatkan diri untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak di
daerah Kramat Jati Jakarta. Ketika bekerja dan membuka pengajian di
Kramat Jati ini Abdul Chalim di dampingi oleh Istri keduanya, Siti Noor
asal Majalengka.
Sedangkan isteri keempatnya dinikahi di tengah-tengah perjuangannya
mengusir penjajahan Belanda seputar berkecamuknya pertempuran Surabaya
ketika Resolusi Jihad dikumandangkan. Istri ketiganya adalah Ny. Sidik
Shindanghaji dari Leuwimunding. Sebelumnya, KH Abdul Chalim telah lebih
dahulu menikahi Ny. Konaah sebagai isteri ketiga.
Tahun 1921 karena ayahnya meninggal dunia, maka KH Abdul Chalim
kembali ke Majalengka dan memboyong istri pertamanya yang di Petalangan
ke Leuwimunding. Sementara istri keduanya telah bercerai darinya. Namun
karena situasi yang semakin tidak menentu, maka Abdul Chalim memulangkan
kembali isterinya ini ke Petalangan demi alasan keamanan. Sementara
Abdul Chalim sendiri kemudian mengabdikan diri sepenuhnya pada dunia
pergerakan dan pendidikan.
Kenalkan Aswaja Hingga Level Terbawah
Abdul Chalim kemudian mengembara ke Surabaya untuk bergabung dengan
teman-teman seperjuangannya. Di Surabaya, atas jasa Kyai Amin Peraban,
Abdul Chalim bertemu kembali dengan KH Wahab Hasbullah senior sekaligus
gurunya selama di Hijaz. Karena hubungan baiknya, KH Abdul Chalim
kemudian dipercaya sebagai pengajar di Nahdlatul Wathan di kampong
Kawatan VI Surabaya. Selain mengajar KH Abdul Chalim juga dipercaya
sebagai pengatur administrasi dan inisiator kegiatan belajar mengajar
seta pembukaan forum-forum diskusi.
Sebagai seorang santri Pasundan yang pandai berkidung dan menguasai
ilmu Balaghoh (sastra Arab kuno) maka KH Abdul Chalim kemudian banyak
sekali menciptakan syair-syair berbahasa Arab untuk memompa semangat
perjuangan santri-santri yang tergabung di dalam Nahdlatul Wathan.
Kedekatan KH Abdul Chalim dengan KH Wahab Hasbullah menjadikan yang
pertama sebagai pengikut setia sekaligus semacam asisten bagi nama
kedua. Melalui aktivitasnya di Nahdlatul Wathan inilah KH Abdul Chalim
menerapkan gagasan-gagasan keagamannya tentang interaksi sosial dan
solidaritas politik dan kebangsaan dalam masyarakat. Selain Nahdlatul
Wathan, KH Abdul Chalim juga tercatat sebagai pengajar di Tashwirul
Afkar Surabaya.
Selama mengabdi di Surabaya, berkali-kali KH Abdul Chalim pulang ke
Majalengka untuk menyampaikan kabar-kabar terbaru dari Surabaya yang
kala itu merupakan pusat perjuangan kaum santri dalam membebaskan bangsa
dari belenggu penjajahan dan kebodohan umat. Setiap pulang ke
Majalengka, KH Abdul Chalim selalu mendatangi rumah-rumah penduduk untuk
mengajarkan dan memperkenalkan faham Ahlussunnah Waljamaah. KH Abdul
Chalim selalu membagi-bagikan gambar-gambar dan surat kabar Swara
Nahdlatoel Oelama kepada masyarakat di daerah Majalengka dan sekitarnya.
Tahun 1942 ketika ormas-ormas Islam dibekukan oleh pemerintah
penjajahan Jepang, KH Abdul Chalim mendapat dua tantangan besar di
daerahnya. Intervensi Jepang kepada para pemuda untuk bergabung dalam
pasukan militer Jepang dan kebanggan para pemuda untuk menjadi komunis
merupakan dilema yang sangat sulit dihadapi.
Dalam situasi inilah KH Abdul Chalim membentuk Hizbullah cabang
majalengka bersama KH Abbas Buntet Cirebon. Hizbullah Majalengka
kemudian bahu membahu bersama dengan kelompok-kelompok pejuang lainnya,
baik dari laskar-laskar santri maupun laskar-laskar pemuda lainnya untuk
mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Pada tahun 1955 KH Abdul Chalim menjadi anggota DPR dari partai NU
dari perwakilan Jawa Barat. Sejak saat ini perjuangan KH Abdul Chalim
lebih dititikberatkan pada pemberdayaan warga NU Jawa Barat dengan
membentuk berbagai wadah pemberdayaan masyarakat seperti PERTANU
(Perkumpulan Petani NU), PERGUNU (Perkumpulan Guru NU) dan pendirian
lembaga-lembaga pendidikan NU di Jawa Barat lainnya.
Pada suatu hari tanggal 11 April 1972 M., selepas menunaikan ibadah
sholat KH Abdul Chalim menghadap Ilahi dengan tenang dan dimakamkan di
kompleks pesantren Sabilul Chalim Leuwimunding, Majalengka. (Disarikan
dari buku KH Abdul Chalim Kenapa Harus Dilupakan? karya J. Fikri Mubarok
oleh Syaifullah Amin )